Bertahun-tahun ku pakai baju ini,
Sehingga ku taktau lagi kapan dan dimana ku beli,
Yang ku tahu, saat itu hanyalah aku dengan ibuku,
Berkeliling-keliling, membiarkan kaki ini penuh dengan lumpur tanah merah yang basah tidak berdebu.
Terkadang mata ini seolah kembali memberikan gambaran akan perjuangan ibu,
Demi melihat seorang anaknya tersenyum ia rela tak membeli baju hanya untuk melihat senyuman yang ada di bibirku,
Saat itu mungkin aku tak berfikir akan perjuangannya, setelah kini aku menginjak usia dewasa, aku sadar bahwa kedua orang tuaku rela menangis, menanggung beban, hanya demi anaknya yaitu aku.
Saat ini, aku telah merasakan letihnya perjuangan, mencari, mendapatkan uang hanya demi sesuap nasi, mengganjal perut yang belum lagi terisi,
Letihnya, payahnya, begitu luarbiasa, tetapi aku beraykur, larna dengan keadaan seperti ini aku tau dan merasakan bahwa hidup itu perjuangan.
Aku berayukur, terlahir dalam keluarga yang sederhana yang semuanya serba tercukupi, karna dengan ini, jika saya dulu terlahir dalam keadaan banyak harta, mungkin aku tak tau arti sebuah perjuangan.
Terimakasih ayah dan ibu, maaf jika sampai saat ini diriku belum bisa lagi membalasa jasamu, kau pahlawanku, kau manusia terhebat di dunia ini.