Allah huakbar, allahu'akbar, terdengar azan subuh berkumandang, begitu indah di dengar, di hiasi dengan langit yang cerah penuh dengan bintang, di balut dengan suhu yang menyejukan, dan di tambah hembusan angin yang meresap dalam kalbu, sesiapapun mungkin di saat itu terbuai dan tidak bisa bangun dari tempat dia tidur dikarnakan ujian di pagi hari itu, tapi tidak dengan sandi, dia laki-laki yang sederhana, yatim, dia miskin, dan dia hanya memiliki rumah sederhana sepeninggalan dari almarhum ayah dan ibunya, dia hidup sendiri dalam rumah sederhana itu, dia selalu memulai aktifitas hidupnya dari rumah itu.
Azan di pagi hari itu menandakan pukul 04.30 pagi, seperti biasanya dia bangun seolah-olah dia di belai oleh sang pemilik hidup, dan diapun selalu terkejut dan selalu bangun tepat azan berkumandang, "sungguh Allah swt sayang padaku" tutur sandi. Sandi adalah laki-laki shalih yang selalu mengahalalkan apa yang Allah swt halalkan, dia juga mengharamkan apa yang Allah swt haramkan, hidupnya selalu dengan ketaqwaan terhadap Allah swt serta imannya yang tak pernah goyah oleh badai sekalipun.
Ketika itu selesainya shalat, mengaji, dan berdo'a, sandipun memulai aktifitasnya, sandi yang kini berusia 22 tahun usia yang cukup muda masih, dia baru lulus 6 tahun lalu dari sma, waktu sma yang sangat mencekik baginya, dan walaupun sangat mencekik, sandi selalu bersyukur karna dia masih bisa sekolah dan lulus seperti halnya orang lain bisa merasakan tamatan sma. Kini dia sudah bekerja di salah satu perusahan di bandung yang bergerak di bidang antar barang, gajihnya tidaklah banyak akan tetapi dengan kebiasaan sandi mengirit dari kecil dia sudah terbiasa membagi-bagi uang untuk keperluan apa dia sudah terbiasa akan hal itu, jadi dia tak menggapnya susah lagi, karna satu dalam pikirannya yaitu syukur.
Waktu itu pukul 07.00 pagi selesai sandi beres2 rumah, mandi makan dan yang lainnya, berangkatlah ia untuk menuju kantor, dengan bangga ia mengenakan seragam kantornya yang sederhana itu, dengan senyuman selalu dia pancarkan di setiap memulai aktifitasnya dan diapun berangkat dengan sepeda butut hadiah ulang tahun waktu smp, yang kala itu ornag tuanya masih hidup. "Bismillahirahmanirrahim" ucap sandi dalam hati, berangkatlah ia untuk bekerja, karna jam kerja sandi lumayan agak siang diapun mengayuh sepedanya dengan santai, sambil menikmati hembusan angin di pagi hari, serta menikmati pemandangan-pemandangan kampung ia tinggal.
Pukul 08.00 pagi sampailah ia di kantornya, memarkirkan sepeda bututnya, dan absen sidik jari di pintu masuk kantor, dengan senyuman yang khas sandi seperti biasa menyapa semua rekan kantornya dengan menebar salam dan senyuman yang ikhlas dari dirinya, sehingga rekan-rekan dan atasan-atasan sandi pun terkadang ikut senang melihat senyuman khasnya itu. Sandi langsung menerima pesanan untuk menghantarkan barang pagi itu, walaupun ia sebenarnya sangatlah letih dengan sedikit keringat di lehernya, akan tetapi letihnya itu selalu ia kalahkan dengan tekad hidupnya, diapun mulai bergegas untuk menghantarkan barang ke salah satu tempat pemilik barang tersebut, sesampianya ia di tempat pemilik barang itu, mengetuk dia (sandi) tiga kali ketukan pintu itu membuat orang dalam rumah bergegas untuk membuka pintu. Setelah beberapa menit sandi menunggu pintu itu terbuka, saat itupun sandi berdiri tepat di depan pintu itu, karna rumah itu luas dan pintunyapun besar sandipun menghadap keluar dan membelakangi pintu tersebut, dan pintupun terbuka dengan pelannya seketika itupun sandi mendengar akan terbukanya pintu itu, sandipun mulai untuk menghadap ke pintu itu, dan betapa terkagetnya ia, melihat sesosok perempuan yang begitu cantik, manis, dan dia membalut tubuhnya dengan kain atau pakaian yang syar'i.
Saat itu sandipun gemetar tangannya, berdetak kencang hatinya, dan karna dia laki-laki yang taat akan agama dia sontak langsung mengucap istigfar dalam hatinya, serta menahan gemetarnya tangan itu sehingga perempuan itupun tak tau akan hal apa yang saat itu terjadi pada sandi, setelah tubuh dan hatinya normal kembali, iapun dengan sopan menyodorkan surat terima barang dan meminta tanda tangan sang pemilik barang, perempuan itupun dengan sopannya dengan baiknya dan dengan menjaga pandangannya, iapun menanda tangani surat itu, setelah penandatanganan selesai barangpun sandi kasihkan, akan tetapi karna barang itu sangatlah besar karna di kemas dalam kardus yang besar, akhirnya sandipun berkata kepada perempuan itu "bolehkah saya bantu memasukan barang ini kedalam, karna maaf barang ini mungkin sangatlah berat" sambil sedikit berdetak lagi jantunya dan mulai grogi, alhasil perempuan itupun dengan sedikit ada perasaan takut merepotkan, dan takut akan hal tak di duga terjadi padanya dia takut karna dia saat itu sendiri dan kedua orang tuanya sedang keluar, ketika itupun sandi mengerti akan hati sang perempuan itu, dan sandi berkata kepadanya," maaf ukhti, insha allah saya orang baik-baik dan saya insha allah tidak akan mencelakakan atau membuat celaka sesama muslim" dengan begitu sang perempuanpun akhirnya dengan terpaksa dan dengan rasa tidak enak akhirnya membolehkan sandi membawakan barang itu kedalam rumahnya. Ketika salah satu kaki sandi melangkah kedalam pintu yang besar itu, dan mulai perempuan itu membukakan pintu dengan sedikit lebar, betapa terkejutnya sandi melihat kemegahan dan kemewahan rumah itu, untuk menuju ruang tamu saja harus berjalan seperti dua kali lipat rumahnya, bahkan tiga kali lipat rumahnya bahkan empatkali, dengan takjub dia melihat isi rumah dan kemegahan rumah itu, tak lupapun ia mengucapkan kalimat Allah sawt dalam hatinya (masha allah) kata sandi, dia terkagum-kagum melihat seisi rumahnya penuh dengan kemewahan, dan hampir saja ia menabrak salah satu tiang rumah yang berada di ruang tamu itu. Sesampainya ia di ruang tamu itu tertarolah barang itu di ruang tamu itu, dia langsung untuk bergegas keluar dan kembali ke tempat ia bekerja, sang perempuanpun mengerti akan hal itu, kata-kata terimakasih banyakpun terucap oleh perempuan shaliha itu ,dan sandipun semakin bergetar hatinya sambil ia tersenyum dan mulai melangkahkan kaki untuk keluar, akan tetapi saking terburu-burunya sandi, dan karna ia takut menimbulkan fitnah karna di dalam rumah itu hanya ada dia dan peremuan shaliha itu, terjatuhlah dompet sandi di depan perempuan itu, dompet yang sudah bertahun-tahun di pakai oleh sandi yang jika dilihat sangatlah sederhana dan penuh dengan jahitan-jahitan, ketika sang perempuan itu menyadari bahwa dompet sandi tertinggal langsung saja perempuan itu mengambilnya dan karna sandi terlalu cepat langkahnya, perempuan itupun tidak sanggup mengejarnya, sampai di depan pintupun ternyata sandi sudah mengayuh sepedanya dengan bergegas. Perempuan itupun keheran-heran dengan tingkah laku sandi, dan sedikit dia tersenyum manis melihat tingkah laku sandi, beberapa saat perempuan itu diam dan ingin mengembalikan dompet sandi alhasil sandi sudah pergi jauh, akhirnya dia memutuskan untuk masuk dan menutup pintu, setelah ia menutup pintu, dia terheran-heran dengan dompetnya sandi yang penuh tambalan itu, dan sang perempuan itupun sedikit membuka dompet sandi, ketika mulai membukanya dia penasaran, akhirnya terlihatlah foto sandi sewaktu kecil dengan ayah dan ibunya, sang perempuanpun tersenyum manis lagi melihat foto sandi dan karna dompet itu banyak lubang, serta nampaklah uang yang bernilai Rp. 10.000 yang ada di dompet tambalan itu, seketika itu berkaca-kacalah perempuan shaliha itu, entah apa yang ia bayangkan, akan tetapi ia sekejap merasa terharu akan dompet itu.
Setelah kejadian itu terjadi, sandi yang begitu sibuk dengan kerjanya, sampai-sampai ia tidak tau bila dompet miliknya terjatuh di rumah perempuan shaliha itu, terdengarlah azan dzuhur berkumandang, bersegerah sandi menuju masjid, dan karna jadwal istirahat sandi pas dengan waktu-waktu shalat jadi sandi sudah terbiasa untuk memilih berangkat kemasjid, dikarnakan juga waktu iatirahatnya lumayan senggang 30 menit, sandipun menuju masjid, sesampainya ia di masjid, ia mengambil air wudhu, dan bergegas untuk menuju shaf paling depan, shalat sunah sebelum dzuhurpun ia lakukan, komatpun berkumandang, sandipun mulai merapatkan shaf dan memulai rakaat pertamanya mengikuti imam.
Beberapa menit kemudian shalat dzuhurpun selesai, dan setelah sandi selesai berdo'a sandi tersadar ada yang beda dengan saku celana belakangnya seperti tidak ada yang mengganjal, dan tersadarlah ia bahwa dompet ia hilang dan jatuh entah kemana, bergegaslah dia mencari dompet itu, dan karna jam istirahat sandi sudah habis dan harus bekerja lagi, sandipun memilih untuk bekerja, dan waktu itupun ia manfaatkan untuk mencari-cari dompetnya yang hilang.
Bersambung...
Nex kelanjutan ceritanya akan di lanjut di bagian episode.02