Ketika perasaan itu mulai tertanam, ketika perasaan itu mulai tumbuh, dan ketika perasaan itu sudah memiliki akar yang kuat, batang yang kekar, daun yang sudah lebat, dan berbuah, alhasil perasaan itupun mulai menyejukan hati ini dan entah kenapa serta diri ini tak tau alasan untuk menikmati perasaan itu dengan memetiknya satu saja, akan tetapi setelah terpetik satu buah, habis, ketika itulah jiwa ini serasa ingin menikmatinya lagi dan lagi.
Seperti itulah saat dimana diri ini terkena panah asmara yang ku sebut dengan cinta, datangnya cinta memang tak di sangka-sangka, seketika saja datang dan menghampiri serta ingin sekali mengungkapkan, ketika itu diri ini memberanikan diri untuk mengungkapkan, dan bodohnya di saat itulah semakin diri ini tenggelam dalam danau cinta itu. Saya tau cinta itu tak seharusnya di ungkapkan dan tak seharusnya membutuhkan jawaban, akan tetapi saat itu begitu bodohnya tetap saja memberanikan diri untuk cinta yang tidak halal itu, cinta yang seharusnya suci dan bersih saya kotori sendiri dengan mengikuti gejolak pembakar itu.
Setelah semua itu berlalu dengan berputarnya waktu, semua itu sirna, dari situlah diri ini sadar bahwa menjaga cinta, dan merasakan cinta bukanlah dengan cara menikmatinya secara tidak halal, akan tetapi menikmatinya secara halal, yaitu dengan menghalalkan sang hati yang di cinta. Menikahinya adalah cara untuk mengahalalkannya, cinta semata-mata karna Allah swt, bukan karna nafsu belaka.
Menikah, bukanlah hal yang begitu mudah, akan tetapi butuh persiapan, bukan karna terburu-buru, akan tetapi mensegerakan, dan mensegerakan bukan karna terburu-buru, karna terburu-buru akan mengakibatkan hal yang tidak baik, selalu menyertakan Allah swt dalam perjalanan menuju halal itu (menikah).